SENI BELA DIRISeni
bela diri merupakan satu kesenian yang timbul sebagai satu cara
seseorang itu mempertahankan diri. Seni bela diri telah lama wujud dan
pada mulanya ia berkembang di medan pertempuran sebelum secara
perlahan-lahan apabila peperangan telah berkurangan dan penggunaan
senjata moden mula digunakan secara berleluasa, seni bela diri mula
berkembang dikalangan mereka yang bukannya anggota tentera tetapi
merupakan orang awam.
Boleh dikatakan seni bela diri terdapat di
merata-merata di dunia ini dan hampir setiap negara mempunyai seni bela
diri yang berkembang sama ada secara tempatan atau diubah sesuai dari
pada seni bela diri luar yang meresap masuk.
Bagaimanapun kemudahan
perhubungan dan komunikasi yang ada pada masa ini memudahkan
perkembangan ide dan seni bela diri tidak lagi terhadang di tanah
asalnya tetapi telah berkembang ke seluruh dunia.
Seni bela diri juga
terbahagi kepada beberapa jenis daripada seni tempur bersenjata tajam,
senjata tidak tajam seperti kayu, dan seni tempur tangan kosong.
Di antara jenis-jenis seni bela diri yang ada adalah seperti berikut:
KARATE
Karate
(空 手 道) adalah seni bela diri yang berasal dari Jepang. Seni bela diri
karate dibawa masuk ke Jepang lewat Okinawa. Seni bela diri ini pertama
kali disebut "Tote” yang berarti seperti “Tangan China”. Waktu karate
masuk ke Jepang, nasionalisme Jepang pada saat itu sedang
tinggi-tingginya, sehingga Sensei Gichin Funakoshi mengubah kanji
Okinawa (Tote: Tangan China) dalam kanji Jepang menjadi ‘karate’ (Tangan
Kosong) agar lebih mudah diterima oleh masyarakat Jepang. Karate
terdiri dari atas dua kanji. Yang pertama adalah ‘Kara’ 空 dan berarti
‘kosong’. Dan yang kedua, ‘te’ 手, berarti ‘tangan'. Yang dua kanji
bersama artinya “tangan kosong” 空手 (pinyin: kongshou).
Menurut
Zen-Nippon Karatedo Renmei/Japan Karatedo Federation (JKF) dan World
Karatedo Federation (WKF), yang dianggap sebagai gaya karate yang utama
yaitu:
> Shotokan
> Goju-Ryu
> Shito-Ryu
> Wado-Ryu
Keempat aliran tersebut diakui sebagai gaya Karate yang utama karena turut serta dalam pembentukan JKF dan WKF.
Namun
gaya karate yang terkemuka di dunia bukan hanya empat gaya di atas itu
saja. Beberapa aliran besar seperti Kyokushin , Shorin-ryu dan Uechi-ryu
tersebar luas ke berbagai negara di dunia dan dikenal sebagai aliran
Karate yang termasyhur, walaupun tidak termasuk dalam "4 besar WKF".
Di
negara Jepang, organisasi yang mewadahi olahraga Karate seluruh Jepang
adalah JKF. Adapun organisasi yang mewadahi Karate seluruh dunia adalah
WKF (dulu dikenal dengan nama WUKO - World Union of Karatedo
Organizations). Ada pula ITKF (International Traditional Karate
Federation) yang mewadahi karate tradisional. Adapun fungsi dari JKF dan
WKF adalah terutama untuk meneguhkan Karate yang bersifat "tanpa kontak
langsung", berbeda dengan aliran Kyokushin atau Daidojuku yang "kontak
langsung".
Latihan dasar karate terbagi tiga seperti berikut:
Kihon, yaitu latihan teknik-teknik dasar karate seperti teknik memukul, menendang dan menangkis.
Kata, yaitu latihan jurus atau bunga karate.
Kumite, yaitu latihan tanding atau sparring.
Pada
zaman sekarang karate juga dapat dibagi menjadi aliran tradisional dan
aliran olah raga. Aliran tradisional lebih menekankan aspek bela diri
dan teknik tempur sementara aliran olah raga lebih menumpukan
teknik-teknik untuk pertandingan olah raga.Teknik Karate
Teknik
Karate terbagi menjadi tiga bagian utama : Kihon (teknik dasar),
Kata(jurus) dan Kumite (pertarungan). Murid tingkat lanjut juga
diajarkan untuk menggunakan senjata seperti tongkat (bo) dan ruyung
(nunchaku).
Kihon
Kihon
(基本:きほん, Kihon?) secara harfiah berarti dasar atau fondasi. Praktisi
Karate harus menguasai Kihon dengan baik sebelum mempelajari Kata dan
Kumite.
Pelatihan Kihon dimulai dari mempelajari pukulan dan
tendangan (sabuk putih) dan bantingan (sabuk coklat). Pada tahap dan
atau Sabuk Hitam, siswa dianggap sudah menguasai seluruh kihon dengan
baik.
Kata
Kata
(型:かた) secara harfiah berarti bentuk atau pola. Kata dalam karate tidak
hanya merupakan latihan fisik atau aerobik biasa. Tapi juga mengandung
pelajaran tentang prinsip bertarung. Setiap Kata memiliki ritme gerakan
dan pernapasan yang berbeda.
Dalam Kata ada yang dinamakan Bunkai. Bunkai adalah aplikasi yang dapat digunakan dari gerakan-gerakan dasar Kata.
Setiap
aliran memiliki perbedaan gerak dan nama yang berbeda untuk tiap Kata.
Sebagai contoh : Kata Tekki di aliran Shotokan dikenal dengan nama
Naihanchi di aliran Shito Ryu. Sebagai akibatnya Bunkai (aplikasi kata)
tiap aliran juga berbeda.
Kumite
Kumite
(組手:くみて) secara harfiah berarti "pertemuan tangan". Kumite dilakukan
oleh murid-murid tingkat lanjut (sabuk biru atau lebih). Tetapi
sekarang, ada dojo yang mengajarkan kumite pada murid tingkat pemula
(sabuk kuning). Sebelum melakukan kumite bebas (jiyu Kumite) praktisi
mempelajari kumite yang diatur (go hon kumite) atau (yakusoku kumite).
Untuk kumite aliran olahraga, lebih dikenal dengan Kumite Shiai atau
Kumite Pertandingan.
Untuk aliran Shotokan di Jepang, kumite hanya
dilakukan oleh siswa yang sudah mencapai tingkat dan (sabuk hitam).
Praktisi diharuskan untuk dapat menjaga pukulannya supaya tidak
mencederai kawan bertanding.
Untuk aliran "kontak langsung" seperti
Kyokushin, praktisi Karate sudah dibiasakan untuk melakukan kumite sejak
sabuk biru strip. Praktisi Kyokushin diperkenankan untuk melancarkan
tendangan dan pukulan sekuat tenaganya ke arah lawan bertanding.
Untuk
aliran kombinasi seperti Wado-ryu, yang tekniknya terdiri atas
kombinasi Karate dan Jujutsu, maka Kumite dibagi menjadi dua macam,
yaitu Kumite untuk persiapan Shiai, yang dilatih hanya teknik-teknik
yang diperbolehkan dalam pertandingan, dan Goshinjutsu Kumite atau
Kumite untuk beladiri, semua teknik dipergunakan, termasuk jurus-jurus
Jujutsu seperti bantingan, kuncian, dan menyerang titik vital.
Falsafah Karate
Rakka (Bunga yang berguguran)
Ia
adalah konsep bela diri atau pertahanan di dalam karate. Ia bermaksud
setiap teknik pertahanan itu perlu dilakukan dengan bertenaga dan mantap
agar dengan menggunakan satu teknik pun sudah cukup untuk membela diri
sehingga diumpamakan jika teknik itu dilakukan ke atas pokok, maka semua
bunga dari pokok tersebut akan jatuh berguguran. Contohnya jika ada
orang menyerang dengan menumbuk muka, si pengamal karate boleh
menggunakan teknik menangkis atas. Sekiranya tangkisan atas itu cukup
kuat dan mantap, ia boleh mematahkan tangan yang menumbuk itu. Dengan
itu tidak perlu lagi membuat serangan susulan pun sudah cukup untuk
membela diri.
Mizu No Kokoro (Minda itu seperti air)
Konsep
ini bermaksud bahwa untuk tujuan bela diri, minda (pikiran) perlulah
dijaga dan dilatih agar selalu tenang. Apabila minda tenang, maka mudah
untuk pengamal bela diri untuk mengelak atau menangkis serangan. Minda
itu seumpama air di danau. Bila bulan mengambang, kita akan dapat
melihat bayangan bulan dengan terang di danau yang tenang. Sekiranya
dilontar batu kecil ke danautersebut, bayangan bulan di danau itu akan
kabur.
Aliran Karate
Seperti
telah disinggung diatas, ada banyak aliran Karate di Jepang, dan
sebagian dari aliran-aliran tersebut sudah masuk ke Indonesia.
Adapun ciri khas dan latar belakang dari berbagai aliran Karate yang termasuk dalam "4 besar JKF" adalah sebagai berikut:
Shotokan
Shoto
adalah nama pena Gichin Funakoshi, Kan dapat diartikan sebagai
gedung/bangunan - sehingga shotokan dapat diterjemahkan sebagai
Perguruan Funakoshi. Gichin Funakoshi merupakan pelopor yang membawa
ilmu karate dari Okinawa ke Jepang. Aliran Shotokan merupakan akumulasi
dan standardisasi dari berbagai perguruan karate di Okinawa yang pernah
dipelajari oleh Funakoshi. Berpegang pada konsep Ichigeki Hissatsu,
yaitu satu gerakan dapat membunuh lawan. Shotokan menggunakan kuda-kuda
yang rendah serta pukulan dan tangkisan yang keras. Gerakan Shotokan
cenderung linear/frontal, sehingga praktisi Shotokan berani langsung
beradu pukulan dan tangkisan dengan lawan.
Goju-ryu
Goju
memiliki arti keras-lembut. Aliran ini memadukan teknik keras dan
teknik lembut, dan merupakan salah satu perguruan karate tradisional di
Okinawa yang memiliki sejarah yang panjang. Dengan meningkatnya
popularitas Karate di Jepang (setelah masuknya Shotokan ke Jepang),
aliran Goju ini dibawa ke Jepang oleh Chojun Miyagi. Miyagi memperbarui
banyak teknik-teknik aliran ini menjadi aliran Goju-ryu yang sekarang,
sehingga banyak orang yang menganggap Chojun Miyagi sebagai pendiri
Goju-ryu. Berpegang pada konsep bahwa "dalam pertarungan yang
sesungguhnya, kita harus bisa menerima dan membalas pukulan". Sehinga
Goju-ryu menekankan pada latihan SANCHIN atau pernapasan dasar, agar
para praktisinya dapat memberikan pukulan yang dahsyat dan menerima
pukulan dari lawan tanpa terluka. Goju-ryu menggunakan tangkisan yang
bersifat circular serta senang melakukan pertarungan jarak rapat.
Shito-ryu
Aliran
Shito-ryu terkenal dengan keahlian bermain KATA, terbukti dari
banyaknya KATA yang diajarkan di aliran Shito-ryu, yaitu ada 30 sampai
40 KATA, lebih banyak dari aliran lain. Namun yang tercatat di soke/di
Jepang ada 111 kata beserta bunkainya. Sebagai perbandingan, Shotokan
memiliki 25, Wado memiliki 17, Goju memiliki 12 KATA. Dalam pertarungan,
ahli Karate Shito-ryu dapat menyesuaikan diri dengan kondisi, mereka
bisa bertarung seperti Shotokan secara frontal, maupun dengan jarak
rapat seperti Goju.
Wado-ryu
Wado-ryu
adalah aliran Karate yang unik karena berakar pada seni beladiri Shindo
Yoshin-ryu Jujutsu, sebuah aliran beladiri Jepang yang memiliki teknik
kuncian persendian dan lemparan. Sehingga Wado-ryu selain mengajarkan
teknik Karate juga mengajarkan teknik kuncian persendian dan
lemparan/bantingan Jujutsu. DIdalam pertarungan, ahli Wado-ryu
menggunakan prinsip Jujutsu yaitu tidak mau mengadu tenaga secara
frontal, lebih banyak menggunakan tangkisan yang bersifat mengalir
(bukan tangkisan keras), dan terkadang menggunakan teknik Jujutsu
seperti bantingan dan sapuan kaki untuk menjatuhkan lawan. Akan tetapi,
dalam pertandingan FORKI dan JKF, para praktisi Wado-ryu juga mampu
menyesuaikan diri dengan peraturan yang ada dan bertanding tanpa
menggunakan jurus-jurus Jujutsu tersebut.
Aliran Karate lain yang tidak termasuk dalam "4 besar JKF" antara lain adalah:
Kyokushin
Kyokushin
tidak termasuk dalam 4 besar Japan Karatedo Federation. Akan tetapi,
aliran ini sangat terkenal baik didalam maupun diluar Jepang, serta
turut berjasa mempopulerkan Karate di seluruh dunia, terutama pada tahun
1970an. Aliran ini didirikan oleh Sosai Masutatsu Oyama. Nama Kyokushin
mempunyai arti kebenaran tertinggi. Aliran ini menganut sistem Budo
Karate, dimana praktisi-praktisinya dituntut untuk berani melakukan
full-contact kumite, yakni tanpa pelindung, untuk mendalami arti yang
sebenarnya dari seni bela diri karate serta melatih jiwa/semangat
keprajuritan (budo). Aliran ini juga menerapkan hyakunin kumite (kumite
100 orang) sebagai ujian tertinggi, dimana karateka diuji melakukan 100
kumite berturut-turut tanpa kalah. Sosai Oyama sendiri telah melakukan
kumite 300 orang. Adalah umum bagi praktisi aliran ini untuk melakukan
5-10 kumite berturut-turut.
Shorin-ryu
Aliran
ini adalah aliran Karate yang asli berasal dari Okinawa. Didirikan oleh
Shoshin Nagamine yang didasarkan pada ajaran Yasutsune Anko Itosu,
seorang guru Karate abad ke 19 yang juga adalah guru dari Gichin
Funakoshi, pendiri Shotokan Karate. Dapat dimaklumi bahwa gerakan
Shorin-ryu banyak persamaannya dengan Shotokan. Perbedaan yang mencolok
adalah bahwa Shorin-ryu juga mengajarkan bermacam-macam senjata, seperti
Nunchaku, Kama dan Rokushaku Bo.
Uechi-ryu
Aliran
ini adalah aliran Karate yang paling banyak menerima pengaruh dari
beladiri China, karena pencipta aliran ini, Kanbun Uechi, belajar
beladiri langsung di provinsi Fujian di China. Oleh karena itu, gerakan
dari aliran Uechi-ryu Karate sangat mirip dengan Kungfu aliran Fujian,
terutama aliran Baihequan (Bangau Putih).
PENCAK SILAT
Seorang pendekar sedang memperagakan silat dengan pakaian.
Pencak
Silat atau Silat (berkelahi dengan menggunakan teknik pertahanan diri)
ialah seni bela diri Asia yang berakar dari budaya Melayu. Seni bela
diri ini secara luas dikenal di Indonesia, Malaysia, Brunei, dan
Singapura tapi bisa pula ditemukan dalam berbagai variasi di berbagai
negara sesuai dengan penyebaran suku Melayu, seperti di Filipina Selatan
dan Thailand Selatan. Berkat peranan para pelatih asal Indonesia, saat
ini Vietnam juga telah memiliki pesilat-pesilat yang tangguh.
Induk
organisasi pencak silat di Indonesia adalah IPSI (Ikatan Pencak Silat
Indonesia). Persilat (Persekutuan Pencak Silat Antara Bangsa), adalah
nama organisasi yang dibentuk oleh Indonesia, Singapura, Malaysia dan
Brunei Darussalam untuk mewadahi federasi-federasi pencak silat di
berbagai negara.
Sejarah
Silat diperkirakan
menyebar di kepulauan nusantara semenjak abad ke-7 masehi, akan tetapi
asal mulanya belum dapat dipastikan. Meskipun demikian, silat saat ini
telah diakui sebagai budaya suku Melayu dalam pengertian yang luas,[1]
yaitu para penduduk daerah pesisir pulau Sumatera dan Semenanjung
Malaka, serta berbagai kelompok etnik lainnya yang menggunakan lingua
franca bahasa Melayu di berbagai daerah di pulau-pulau Jawa, Bali,
Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lainnya juga mengembangkan sebentuk silat
tradisional mereka sendiri. Dalam Bahasa Minangkabau, silat itu sama
dengan silek. Sheikh Shamsuddin (2005)[2] berpendapat bahwa terdapat
pengaruh ilmu beladiri dari Cina dan India dalam silat. Bahkan
sesungguhnya tidak hanya itu. Hal ini dapat dimaklumi karena memang
kebudayaan Melayu (termasuk Pencak Silat) adalah kebudayaan yang terbuka
yang mana sejak awal kebudayaan Melayu telah beradaptasi dengan
berbagai kebudayaan yang dibawa oleh pedagang maupun perantau dari
India, Cina, Arab, Turki, dan lainnya. Kebudayaan-kebudayaan itu
kemudian berasimilasi dan beradaptasi dengan kebudayaan penduduk asli.
Maka kiranya historis pencak silat itu lahir bersamaan dengan munculnya
kebudayaan Melayu. Sehingga, setiap daerah umumnya memiliki tokoh
persilatan yang dibanggakan. Sebagai contoh, bangsa Melayu terutama di
Semenanjung Malaka meyakini legenda bahwa Hang Tuah dari abad ke-14
adalah pendekar silat yang terhebat.[3] Hal seperti itu juga yang
terjadi di Jawa, yang membanggakan Gajah Mada.
Perkembangan dan
penyebaran silat secara historis mulai tercatat ketika penyebarannya
banyak dipengaruhi oleh kaum Ulama, seiiring dengan penyebaran agama
Islam pada abad ke-14 di Nusantara. Catatan historis ini dinilai otentik
dalam sejarah perkembangan pencak silat yang pengaruhnya masih dapat
kita lihat hingga saat ini. Kala itu pencak silat telah diajarkan
bersama-sama dengan pelajaran agama di surau-surau. Silat lalu
berkembang dari sekedar ilmu beladiri dan seni tari rakyat, menjadi
bagian dari pendidikan bela negara untuk menghadapi penjajah. Disamping
itu juga pencak silat menjadi bagian dari latihan spiritual.[2]
Istilah dalam Pencak Silat
Sikap dan Gerak
Pencak
silat ialah sistem yang terdiri atas sikap (posisi) dan gerak-gerik
(pergerakan). Ketika seorang pesilat bergerak ketika bertarung, sikap
dan gerakannya berubah mengikuti perubahan posisi lawan secara
berkelanjutan. Segera setelah menemukan kelemahan pertahanan lawan, maka
pesilat akan mencoba mengalahkan lawan dengan suatu serangan yang
cepat.
Teknik
Pencak
Silat memiliki macam yang banyak dari teknik bertahan dan menyerang.
Praktisi biasa menggunakan tangan, siku, lengan, kaki, lutut dan telapak
kaki dalam serangan. Teknik umum termasuk tendangan, pukulan,
sandungan, sapuan, mengunci, melempar, menahan, mematahkan tulang sendi,
dan lain-lain.
Jurus
Pesilat
berlatih dengan jurus-jurus. Jurus ialah rangkaian gerakan dasar untuk
tubuh bagian atas dan bawah, yang digunakan sebagai panduan untuk
menguasai penggunaan tehnik-tehnik lanjutan pencak silat (buah), saat
dilakukan untuk berlatih secara tunggal atau berpasangan. Penggunaan
langkah, atau gerakan kecil tubuh, mengajarkan penggunaan pengaturan
kaki. Saat digabungkan, itulah Dasar Pasan, atau aliran seluruh tubuh.
Terdapat 4 aspek utama dalam pencak silat, yaitu:
Aspek Mental Spiritual: Pencak
silat membangun dan mengembangkan kepribadian dan karakter mulia
seseorang. Para pendekar dan maha guru pencak silat zaman dahulu
seringkali harus melewati tahapan semadi, tapa, atau aspek kebatinan
lain untuk mencapai tingkat tertinggi keilmuannya.
Aspek Seni Budaya:
Budaya dan permainan "seni" pencak silat ialah salah satu aspek yang
sangat penting. Istilah Pencak pada umumnya menggambarkan bentuk seni
tarian pencak silat, dengan musik dan busana tradisional.
Aspek Bela Diri:
Kepercayaan dan ketekunan diri ialah sangat penting dalam menguasai
ilmu bela diri dalam pencak silat. Istilah silat, cenderung menekankan
pada aspek kemampuan teknis bela diri pencak silat.
Aspek Olah Raga:
Ini berarti bahwa aspek fisik dalam pencak silat ialah penting. Pesilat
mencoba menyesuaikan pikiran dengan olah tubuh. Kompetisi ialah bagian
aspek ini. Aspek olah raga meliputi pertandingan dan demonstrasi
bentuk-bentuk jurus, baik untuk tunggal, ganda atau regU.
Bentuk
pencak silat dan padepokannya (tempat berlatihnya) berbeda satu sama
lain, sesuai dengan aspek-aspek yang ditekankan. Banyak aliran yang
menemukan asalnya dari pengamatan atas perkelahian binatang liar.
Silat-silat harimau dan monyet ialah contoh dari aliran-aliran tersebut.
Adapula yang berpendapat bahwa aspek bela diri dan olah raga, baik
fisik maupun pernapasan, adalah awal dari pengembangan silat. Aspek olah
raga dan aspek bela diri inilah yang telah membuat pencak silat menjadi
terkenal di Eropa.
Bagaimanapun, banyak yang berpendapat bahwa
pokok-pokok dari pencak silat terhilangkan, atau dipermudah, saat pencak
silat bergabung pada dunia olah raga. Oleh karena itu, sebagian
praktisi silat tetap memfokuskan pada bentuk tradisional atau spiritual
dari pencak silat, dan tidak mengikuti keanggotaan dan peraturan yang
ditempuh oleh Persilat, sebagai organisasi pengatur pencak silat
sedunia.
Tingkat kemahiran
Secara ringkas, murid silat atau pesilat dibagi menjadi beberapa tahap atau tingkat kemahiran, yaitu:
Pemula,
diajari semua yang tahap dasar seperti kuda-kuda,teknik tendangan,
pukulan, tangkisan, elakan,tangkapan, bantingan, olah tubuh, maupun
rangkaian jurus dasar perguruan dan jurus standar IPSI
Menengah,
ditahap ini, pesilat lebih difokuskan pada aplikasi semua gerakan
dasar, pemahaman, variasi, dan disini akan mulai terlihat minat dan
bakat pesilat, dan akan disalurkan kepada masing-masing cabang, misalnya
Olahraga & Seni Budaya.
Pelatih,
hasil dari kemampuan yang matang berdasarkan pengalaman di tahap
pemula, dan menengah akan membuat pesilat melangkah ke tahap
selanjutnya, dimana mereka akan diberikan teknik - teknik beladiri
perguruan, dimana teknik ini hanya diberikan kepada orang yang memang
dipercaya, dan mampu secara teknik maupun moral, karena biasanya teknik
beladiri merupakan teknik tempur yang sangat efektif dalam melumpuhkan
lawan / sangat mematikan.
Pendekar, merupakan pesilat yang telah diakui oleh para sesepuh perguruan, mereka akan mewarisi ilmu-ilmu rahasia tingkat tinggi.
TAEKWONDO
Taekwondo
(juga dieja Tae Kwon Do, Taekwon-Do) adalah olah raga bela diri Korea
yang paling populer dan juga merupakan olah raga nasional Korea. Ini
adalah seni bela diri yang paling banyak dimainkan di dunia dan juga
dipertandingkan di Olimpiade.
Dalam bahasa Korea, hanja untuk Tae
berarti "menendang atau menghancurkan dengan kaki"; Kwon berarti
"tinju"; dan Do berarti "jalan" atau "seni". Jadi, Taekwondo dapat
diterjemahkan dengan bebas sebagai "seni tangan dan kaki" atau "jalan"
atau "cara kaki dan kepalan". Popularitas taekwondo telah menyebabkan
seni ini berkembang dalam berbagai bentuk. Seperti banyak seni bela diri
lainnya, taekwondo adalah gabungan dari teknik perkelahian, bela diri,
olah raga, olah tubuh, hiburan, dan filsafat.
Meskipun ada banyak
perbedaan doktriner dan teknik di antara berbagai organisasi taekwondo,
seni ini pada umumnya menekankan tendangan yang dilakukan dari suatu
sikap bergerak, dengan menggunakan daya jangkau dan kekuatan kaki yang
lebih besar untuk melumpuhlan lawan dari kejauhan. Dalam suatu
pertandingan, tendangan berputar, 45 derajat, depan, kapak dan samping
adalah yang paling banyak dipergunakan; tendangan yang dilakukan
mencakup tendangan melompat, berputar, skip dan menjatuhkan, seringkali
dalam bentuk kombinasi beberapa tendangan. Latihan taekwondo juga
mencakup suatu sistem yang menyeluruh dari pukulan dan pertahanan dengan
tangan, tetapi pada umumnya tidak menekankan grappling (pergulatan).
Tiga Materi Dalam Berlatih
Poomse atau rangkaian jurus
adalah rangkaian teknik gerakan dasar serangan dan pertahanan diri,
yang dilakukan melawan lawan yang imajiner, dengan mengikuti diagram
tertentu. Setiap diagram rangkaian gerakan poomse didasari oleh filosofi
timur yang menggambarkan semangat dan cara pandang bangsa Korea.
Kyukpa atau teknik pemecahan benda keras
adalah latihan teknik dengan memakai sasaran/obyek benda mati, untuk
mengukur kemampuan dan ketepatan tekniknya. Obyek sasaran yang biasanya
dipakai antara lain papan kayu, batu bata, genting, dan lain-lain.
Teknik tersebut dilakukan dengan tendangan, pukulan, sabetan, bahkan
tusukan jari tangan.
Kyoruki atau pertarungan
adalah latihan yang mengaplikasikan teknik gerakan dasar atau poomse,
dimana dua orang yang bertarung saling mempraktekkan teknik serangan dan
teknik pertahanan diri.Filosofi Sabuk pada Tae Kwon Do
Putih melambangkan kesucian,awal/dasar dari semua warna,permulaan.(mempelajari jurus dasar (taeguk) 1)
Kuning
melambangkan bumi,disinilah mulai ditanamkan dasar-dasar TKD dengan
kuat.?(mempelajari jurus dasar (taeguk) 2 dan 3).Sebelum naik sabuk
hijau biasanya naik ke sabuk kuning strip hijau terlebih dulu.
Hijau
melambangkan hijaunya pepohonan,pada saat inilah dasar TKD mulai
ditumbuhkembangkan.(mempelajari taeguk 4 dan 5).Sebelum naik ke sabuk
biru biasanya naik ke sabuk hijau strip biru terlebih dulu.
Biru
melambangkan birunya langit yang menyelimuti bumi dan seisinya,memberi
arti bahwa kita harus mulai mengetahui apa yang telah kita
pelajari.(mempelajari taeguk 6 dan 7).Sebelum naik sabuk merah biasanya
naik ke sabuk biru strip merah terlebih dulu.
Merah
melambangkan matahari artinya bahwa kita mulai menjadi pedoman bagi
orang lain dan mengingatkan harus dapat mengontrol setiap sikap dan
tindakan kita.(mempelajari taeguk 8, 9, dan 10). Sebelum naik sabuk
hitam, biasanya naik ke sabuk merah strip dua dan merah strip satu
dahulu.
Hitam
melambangkan akhir,kedalaman,kematangan dalam berlatih dan penguasaan
diri kita dari takut dan kegelapan.Hitam memiliki tahapan dari Dan 1
hingga Dan 10.
JUJITSU
Jujutsu
bahasa Jepang: 柔術(juga dieja Jujitsu, Ju-Jitsu atau Jiu-Jitsu)adalah
sebuah sebutan kolektif untuk beberapa aliran seni beladiri yang berasal
dari Jepang, adalah tidak betul jika dikatakan bahwa Ju-Jitsu mengacu
pada satu macam beladiri saja. Jujutsu pada dasarnya adalah
bentuk-bentuk pembelaan diri yang bersifat defensif dan memanfaatkan
"Yawara-gi" atau teknik-teknik yang bersifat fleksibel, dimana serangan
dari lawan tidak dihadapi dengan kekuatan, melainkan dengan cara
"menipu" lawan agar daya serangan tersebut dapat digunakan untuk
mengalahkan dirinya sendiri. Dari seni beladiri Jujutsu ini, lahirlah
beberapa seni beladiri lainnya yang mempunyai konsep defensif serupa,
yaitu Aikido dan Judo, keduanya juga berasal dari Jepang.
Jujutsu
terdiri atas bermacam-macam aliran (Ryuha), namun pada garis besarnya
terbagi atas dua "gaya", yaitu tradisional dan modern. Gerakan dari
kedua macam "gaya" Jujutsu ini adalah hampir sama, namun jurus-jurus
Jujutsu modern sudah disesuaikan dengan situasi pembelaan diri di zaman
modern, sedangkan jurus-jurus Jujutsu tradisional biasanya mencerminkan
situasi pembelaan diri di saat aliran Jujutsu yang bersangkutan
diciptakan. Sebagai contoh, Jujutsu yang diciptakan di zaman Sengoku
Jidai (sebelum Shogun Tokugawa berkuasa) menekankan pada pertarungan di
medan perang dengan memakai baju besi (disebut Yoroi Kumi Uchi),
sedangkan yang diciptakan di zaman Edo (sesudah Shogun Tokugawa
berkuasa) menekankan pada beladiri dengan memakai pakaian sehari-hari
(Suhada Jujutsu).
Teknik-teknik Jujutsu pada garis besarnya terdiri atas atemi waza (menyerang bagian yang lemah dari tubuh lawan), kansetsu waza / gyakudori (mengunci persendian lawan) dan nage waza
(menjatuhkan lawan). Setiap aliran Jujutsu memiliki caranya sendiri
untuk melakukan teknik-teknik tersebut diatas. Teknik-teknik tersebut
lahir dari metode pembelaan diri kaum Samurai (prajurit perang zaman
dahulu) di saat mereka kehilangan pedangnya, atau tidak ingin
menggunakan pedangnya (misalnya karena tidak ingin melukai atau membunuh
lawan).
Aliran Jujutsu yang tertua di Jepang adalah Takenouchi-ryu
yang didirikan tahun 1532 oleh Pangeran Takenouchi Hisamori.
Aliran-aliran lain yang terkenal antara lain adalah Shindo Yoshin-ryu
yang didirikan oleh Matsuoka Katsunosuke pada tahun 1864, Daito-ryu yang
didirikan oleh Takeda Sokaku pada tahun 1892, Hakko-ryu yang didirikan
Okuyama Ryuho pada tahun 1942, dan banyak aliran lainnya.
AIKIDO
Aikido(合気道,aikido)
adalah salah satu seni beladiri asal Jepang yang diciptakan oleh
Morihei Ueshiba ( 植芝 盛平 Ueshiba Morihei) berasal dari Daito Ryu
Aiki-Jujutsu. Daito Ryu Aiki-Jujutsu diciptakan pada era modernisasi
Jepang yang berlangsung sekitar tahun 1800-an. Beladiri ini merupakan
kombinasi dari ilmu pedang Kenjutsu dan Jujutsu yang juga merupakan
bentuk seni beladiri tradisional Jepang. Pengaruh Kenjutsu tampak dalam
pengaturan gerakan gerakan atau langkah langkah kaki. Sedangkan pengaruh
Jujutsu tampak dalam penggunaan teknik kuncian dan lemparan.
Kata " aikido" berasal dari tiga huruf kanji:
合 - ai - bergabung, menyelaraskan
気 - ki - roh, hidup energi
道 - dō - jalan, cara
Seni
beladiri ini diciptakan dengan menekankan harmonisasi dan keselarasan
antara energi ki(気, prana) individu dengan ki alam semesta. Aikido juga
menekankan pada prinsip kelembutan dan bagaimana untuk mengasihi serta
membimbing lawan. Prinsip ini diterapkan pada gerakan-gerakannya yang
tidak menangkis serangan lawan atau melawan kekuatan dengan kekuatan
tetapi "mengarahkan" serangan lawan untuk kemudian menaklukkan lawan
tanpa ada niat untuk mencederai lawan. Berbeda dengan beladiri pada
umumnya yang lebih mengutamakan pada latihan kekuatan fisik dan stamina,
Aikido lebih mendasarkan latihannya pada penguasaan diri dan
kesempurnaan teknik. Teknik teknik yang digunakan dalam Aikido
kebanyakan berupa teknik elakan, kuncian, lemparan, bantingan. Sementara
teknik teknik pukulan maupun tendangan dalam praktiknya jarang
digunakan.Falsafah falsafah yang mendasari Aikido, yaitu kasih dan
konsep mengenai ki inilah yang membuat Aikido menjadi suatu seni
beladiri yang unik.
Dalam Aikido ini juga tidak mengenal sistem
kompetisi atau pertandingan, seperti beladiri-beladiri lainnya. Namun
sistem kompetisinya lebih bersifat embukai (peragaan teknik).
Sistem
tingkatan yang harus dilalui oleh seorang praktisi Aikido hampir sama
dengan yang digunakan oleh seni beladiri asal Jepang lainnya, yaitu
sistem Kyu untuk tingkat dasar dan Shodan untuk tingkat mahir. Secara
singkat, praktisi yang berada di tingkat kyu 6 sampai kyu 4 menggunakan
tanda berupa sabuk yang berwarna putih. Sementara praktisi yang mencapai
tingkatan kyu 3 sampai 1 menggunakan sabuk berwarna cokelat. Tingkatan
selanjutnya adalah Shodan. Praktisi yang mencapai tingkatan ini ditandai
dengan sabuk yang berwarna hitam serta aksesoris tambahan berupa celana
panjang bernama Hakama. Celana seperti ini biasa dipakai oleh para
samurai pada zaman dahulu.
Hingga saat ini Aikido juga banyak
memiliki banyak cabang-cabang "teknik" atau "style" yang juga memperkaya
teknik-teknik yang tidak meninggalkan teknik dasarnya. Misalnya aliran
Nisyo yang lebih menekankan style teknik-tekniknya kepada padang (boken)
dan tongkat/stik (jo). Juga aliran Iwama yang lebih menekankan
teknik-tekniknya kepada kecepatan dalam mengatasi serangan lawan (nage).
Sejarah
Aikido
diciptakan oleh Morihei Ueshiba ( 植芝 盛平 Ueshiba Morihei, 14 desember
1883 - 26 april 1969, disebut juga sebagai ousensei 大先生、翁先生 " guru
besar" ). Ueshiba menginginkan aikido tidak hanya sebagai perpaduan seni
beladiri, tetapi juga ekspresi falsafah pribadi yang bersifat damai dan
universal. seumur hidupnya sampai saat ini Ueshiba', ia telah menyusun
aikido dari koryu (old-style seni perang) menjadi seni beladiri yang
menyebar dengan mendidik dan menciptakan seniman-seniman beladiri di
seluruh.
KENDO
Kendo
(剣道 Kendō) adalah seni bela diri modern dari Jepang yang menggunakan
pedang. Kendo berasal dari kata "Ken (剣)" yang artinya "Pedang", dan "Do
(道)" yang artinya "Jalan". Jadi arti Kendo secara keseluruhan adalah
suatu jalan/ proses disiplin diri yang membentuk suatu pribadi Samurai
(侍) yang pemberani dan loyal. Kendo menggabungkan unsur-unsur bela diri,
seni dan olah raga.
Dalam latihan, Kendo menggunakan peralatan seperti:
> Seragam: Kendo Gi dan Hakama
> Pedang dari bambu (Shinai)
> Bogu, yang terdiri dari:
> Men (pelindung kepala)
> Do (pelindung badan)
> Kote (pelindung tangan)
>Tare (pelindung paha dan kemaluan)
Latihan
Kendo [(Keiko (恵子))] terdiri dari berbagai macam tujuan untuk
mengembangkan diri. Seperti halnya bela diri lain, Kendo memerlukan
disiplin tinggi dan dedikasi penuh untuk latihan, seperti etika
(religi), postur tubuh dan teknik melangkah, dan cara mengayun pedang
yang benar.
Teknik Kendo
Ada 4 jenis serangan dalam Kendo, yaitu:
Men
Tebasan kepala. Sasaran tebasannya adalah dari ujung dahi sampai dagu.
Kote
Tebasan
tangan. Jika lawan menggunakan 'Chudan-no-kamae', maka sasaran adalah
tangan kanan, tetapi jika lawan menggunakan 'jodan-no-kamae', sasarannya
adalah tangan kiri. Jika lawan menggunakan dua pedang ('nito-ryu'),
maka kedua lengan dapat dijadikan sasaran.
Do
Tebasan badan. Sasarannya adalah sisi kiri atau kanan perut.
Tsuki
Tusukan. Sasarannya hanyalah leher.
Untuk
teknik Tsuki, sangat diperlukan keahlian tinggi dan pengaturan sasaran
tusukan yang tepat, oleh karena itu jurus ini hanya boleh digunakan oleh
anggota senior, dan tidak disarankan untuk digunakan pada saat
pertandingan, kecuali telah disetujui oleh pelatih [Sensei (先生)]
KUNG FU
Kung
fu adalah ilmu bela diri dari Tiongkok. Akan tetapi, arti kata kung fu
yang sebenarnya memiliki makna luas, yakni sesuatu yang didapat dalam
waktu yang lama dan dengan ketekunan yang sungguh-sungguh. Sehingga
seorang ahli memasak yang hebat pun dapat dikatakan memiliki kung-fu
yang tinggi. Selain kata kung
fu, istilah wushu dan kun dao juga sering dipakai untuk menyebut ilmu
bela diri dari Tiongkok. Sedangkan ilmu Kungfu yang sudah menyebar ke
Asia Tenggara (terutama Indonesia) di masa lalu disebut Kuntao, menurut
Donn Draeger dalam buku beliau yang berjudul Weapons and Fighting Arts
of Indonesia. Namun di masa kini, istilah Kuntao tersebut sudah sangat
jarang dipergunakan.
Perkembangan
Seperti ilmu bela diri lain
pada umumnya, bela diri kung fu berkembang dari kebutuhan manusia untuk
bertahan hidup. Baik untuk membela diri dari serangan binatang buas,
berburu untuk makan, maupun untuk berperang. Dengan berkembangnya ilmu
pengetahuan tentang obat-obatan dan tubuh manusia di Tiongkok - serta
perang saudara yang berkepanjangan dan sering, seni bela diri kung fu
pun berkembang pesat dan menyebar luas, sehingga membawa banyak
kontribusi bagi berbagai macam bela diri di Asia.
Salah satu ilmu bela diri kung fu yang terkenal adalah dari Kuil Shaolin.
Seiring
dengan kemajuan dan makin terbukanya negara Tiongkok, berbagai ilmu
bela diri kung fu digabung dan distandarkan menjadi suatu bentuk
olahraga yang dapat dipertandingkan, yakni wushu.
WUSHU
Wushu
(武術 atau 武术; Pinyin: wǔshù) secara harafiah berarti "seni
bertempur/bela diri". Ini merupakan istilah yang lebih benar dibanding
dengan istilah yang lebih terkenal tapi salah penggunaannya kung fu,
yang berarti "ahli" dalam bidang tertentu, tidak hanya terbatas dalam
bela diri. Semua kategori Seni bela diri China yang tradisional, keras
dan lembut dapat disebut Wushu. Wushu keras termasuk tinju selatan
Nanquan dan tinju panjang Changquan. Wushu lembut termasuk tinju Taiji,
Telapak Bagua, dan tinju Hsing Yi. Adapun seni beladiri Wushu yang telah
dikembangkan oleh etnis China yang menetap di wilayah Asia Tenggara
(terutama Indonesia) seringkali disebut dengan istilah Kuntao.
5 Elemen Wushu:
Air:
melambangkan kehidupan dan kelembutan, karena air memberi makan
tumbuhan dan bentuk air sendiri yang selalu sesuai dengan wadahnya.
Kayu:
melambangkan tulang dan otot, sebagai energi dari kehidupan yang jika
terkena api akan mengakibatkan terbentuknya panas sebagai tenaga (otot).
Api: melambangkan kekuatan dan ketangkasan, memberi nutrisi dari hasil pembakaran yang membuat pembaharuan dalam kemajuan.
Bumi: melambangkan pertahanan, memberikan tempat bagi berbagai unsur untuk berkembang.
Logam:
melambangkan penggunaan senjata, mengkombinasikan berbagai unsur yang
bermanfaat untuk menguasai berbagai senjata yang sangat penting bagi
wushu.
Hubungan
berbagai unsur dalam wushu adalah air mendinginkan api, api menempah
logam, logam memotong kayu, kayu tumbuh dari bumi, bumi mengontrol air.
Jadi, semua unsur ini saling berhubungan satu sama lain.
Sumber : http://ochie21.blogspot.com/